Kearifan lokal itu, katanya, telah menjadi pedoman para leluhur Fakfak dalam membangun kehidupan bersama di tengah perbedaan suku, etnis, dan agama.
"Sebaran cinta kasih akan melahirkan kerukunan, kebersamaan, dan persatuan," katanya.
Baca Juga:
Polres Fakfak Gelar Apel Kesiapan Pengamanan Puncak 666 Tahun Islam Masuk Papua, 214 Personel Disiagakan
Bupati menegaskan semangat keberagaman tersebut menjadi landasan dalam pembangunan Kabupaten Fakfak. Dalam visi pembangunan daerah, Pemkab Fakfak membawa cita-cita mewujudkan daerah yang mandiri, sejahtera, aman, dan berdaya saing berdasarkan keberagaman.
Ruang Silaturahmi Lintas Umat
Samaun juga menilai peringatan 666 tahun masuknya Islam ke Tanah Papua menjadi sarana mempererat silaturahmi masyarakat Fakfak tanpa dibatasi latar belakang suku, etnis, maupun agama.
Baca Juga:
Gereja Katolik Fakfak Ajak Umat Sukseskan Peringatan 666 Tahun Islam Masuk Papua, Jaga Keamanan dan Ketertiban
Ia membedakan kegiatan keagamaan yang bersifat ritual dan seremonial. Ibadah ritual merupakan keyakinan masing-masing umat beragama dan tidak boleh diganggu pihak lain.
Sementara kegiatan seremonial dapat menjadi ruang bersama bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk berkontribusi.
"Peringatan hari masuknya agama Islam ke Tanah Papua saat ini merupakan kegiatan yang bersifat seremonial, sehingga dapat memberikan peluang bagi suku, etnis, dan pemeluk agama lain untuk ikut memberikan kontribusinya," jelasnya.